Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example 468x60
Hukum

Berikut Kronologi Perusakan Rumah Ibadah di Padang

×

Berikut Kronologi Perusakan Rumah Ibadah di Padang

Sebarkan artikel ini
Gbr : Wali Kota Padang minta maaf atas insiden perusakan rumah ibadah GKSI.

Since24News.com|Padang – Aksi intolerasi kembali terjadi dan telah menjadi habitus baru. Pembubaran ibadah dan pengerusakan rumah doa umat Kristen jemaat Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) kembali terjadi di Kelurahan Padang Sarai, Kecamatan Koto Tangah, Padang, Sumatera Barat.

Massa yang mendatangi rumah doa tersebut berteriak-teriak, membawa balok kayu, dan melakukan perusakan. Jemaat yang panik lari berhamburan keluar, diikuti teriakan dan tangis ketakutan dari wajah polos anak-anak dan perempuan. Usai rumah doa tersebut kosong, masa semakin beringas melancarkan aksi pengerusakan.

Pendeta Fatiaro Dachi sebagai pembina anak-anak di rumah doa tersebut berupaya menenangkan jemaatnya untuk tidak melakukan perlawanan.

Dachi, mengungkapkan bahwa insiden bermula ketika puluhan orang datang membawa kayu dan batu. Mereka berteriak-teriak meminta agar kegiatan dihentikan dan rumah doa dibubarkan. Bahkan, beberapa pelaku diketahui membawa senjata tajam dan merusak isi bangunan.

“Anak-anak sedang belajar agama Kristen saat itu. Tiba-tiba sekelompok orang datang menyerang. Dua anak menjadi korban, yang satu mengalami luka di kaki karena dipukul kayu dan tidak bisa berjalan, satu lagi bahunya lebam,” ujar Dachi.

Kedua anak yang menjadi korban, masing-masing berusia 9 dan 11 tahun, langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.

Akibat aksi main hakim sendiri tersebut pihak kepolisian mengamankan sembilan orang yang diduga terlibat dalam penyerangan tersebut.

Menurut Wakapolda Sumbar, Brigjen Pol Solihin, pihak kepolisian sudah mengamankan sembilan orang yang diduga terlibat dalam penyerangan. Ia menambahkan bahwa jumlah pelaku bisa bertambah seiring perkembangan penyelidikan.

“Yang sudah kita amankan sembilan orang. Tentunya akan berkembang lagi. Sembilan orang ini sesuai dengan apa yang ada di video yang sudah ada, karena ada bukti-bukti maka kami amankan semua,” ujar Solihin dikutip dari video yang diunggah akun Instagram Polresta Padang, Senin (28/7/2025).

Wali Kota Padang, Fadli Amran, mengungkapkan permintaan maafnya atas insiden tersebut. Menurutnya, kejadian tersebut disebabkan oleh miskomunikasi.

“Tadi saya sudah mendengarkan dari kedua belah pihak dan mereka sudah menyampaikan kronologi kenapa ini bisa terjadi. Kesimpulannya ini karena adanya miskomunikasi,” katanya.

Menurutnya, miskomunikasi yang dimaksud adalah adanya keramaian di rumah doa tersebut. Kemudian pihak RW juga tidak mendapatkan informasi menyeluruh sehingga terjadi insiden tersebut.

“Insiden ini tentunya kami sesali. Tentunya kita juga mengetahui luka perasaan saudara-saudara kita masyarakat Nias yang sudah hidup damai dengan masyarakat sekitar dari dahulu,” ungkapnya.

Fadli mengatakan bahwa insiden tersebut akan menjadi catatan bagi Pemko Padang ke depannya.

Sementara, untuk proses hukum yang mungkin akan ditempuh oleh masyarakat Kristen yang menjadi korban, pihaknya tidak akan melakukan intervensi.

“Kami menyerahkan semua proses hukumnya kepada pihak yang berwenang. Kami datang malam ini hanya untuk melihat bagaimana situasi dan kondisi kehidupan beragama di sana,” katanya. (Snc)