Since24news.com|Simalungun – Sejumlah terminal sudah disediakan oleh Pemerintah Kota Pematangsiantar, Sumut. Namun kehadiran ‘terminal bayangan’ tampaknya masih tetap diminati juga oleh penumpang. Keberadaannya kerap dikeluhkan karena menyebabkan kemacetan, hingga menganggu aktivitas pejalan kaki.
Di seputaran Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Siantar Timur, setidaknya ada satu titik yang berubah fungsi menjadi terminal bayangan. Salah satunya Loket Sejahtera Platinum. Berbagai jenis kendaraan bus mereka dengan leluasa bisa nongkrong mencari penumpang.
Saat jam sibuk, para penumpang terlihat berebut untuk bisa mendapat tempat duduk. Tak sedikit pengguna jalan akhirnya memilih untuk berjalan hampir ditengah jalan, hingga nyaris ditabrak oleh kendaraan lain.
Pantauan awak media, bus-bus Platinum tersebut biasanya menghabiskan waktu kurang lebih 15 menit untuk keluar dari putaran. Namun setelah keluar, bus-bus ini masih juga memperlambat lajunya untuk bisa menambah penumpang.
Kehadiran terminal bayangan yang beroperasi di inti kota ini diduga tanpa ada izin pemerintah Kota Pematangsiantar, sehingga meresahkan bagi pelayanan publik di daerah tersebut.
Bahkan kehadiran terminal bayangan ini bukan hanya meresahkan dari sisi pelayanan publik, namun merugikan pemerintah daerah untuk memperoleh pendapatan dari urusan izin dan retribusi.
Keberadaan terminal bayangan ini juga cukup merugikan penumpang, karena bus belum tentu layak beroperasi dan harga tiket di terminal banyangan juga bisa naik turun tanpa adanya pantauan pemerintah.
Selain itu terminal bayangan juga menimbulkan kemacetan lalu lintas, mengurangi kenyamanan dan keamanan masyarakat sekitar, serta lemahnya pengawasan operasional bus oleh pemerintah.
Tentu persoalan seperti ini menjadi tantangan serius bagi pimpinan Dinas Perhubungan dan Kasat Lantas Polres Siantar agar upaya penertiban terminal bayangan ini untuk segera dilakukan.
Sementara dari informasi yang diperoleh awak media menyebutkan bahwa mobil-mobil travel Platinum yang beroperasi di terminal bayangan itu kabar-kabarnya di back up oleh beberapa aparat, hingga ada dukungan dari oknum warga setempat.
Perlu diketahui bahwa negara punya kewenangan mengatur dan tidak boleh kalah dari oknum-oknum yang melakukan praktik ilegal seperti ini.
Menanggapi hal diatas, awak media kemudian mengkonfirmasi Richardo Partogi, salah satu penanggung jawab atau owner Sejahtera Platinum. Namun, hingga berita ini terbit, pertanyaan yang dilayangkan tidak dijawab. (Yud|Snc)









